Senin, 03 Desember 2012

Curahan Hati untuk Bunda...


Curahan Hati untuk Bunda
Bunda,
Sebenarnya ananda tak tahu darimana memulai rangkaian kata-kata ini, mengingat begitu besarnya kasih sayang yang telah bunda berikan untuk ananda, kasih sayang nan tak berujung dan takkan mampu terbalaskan.

Bunda,
Semenjak dalam kandungan, ananda bunda belai dengan penuh kelembutan nan berlapis sejuta harapan. Takkan terpungkiri betapa derasnya airmata bahagiamu saat melihat ananda lahir ke dunia. Menimang dengan sarat cinta, membesarkan dan mendidik ananda tanpa kenal lelah.

Dengan sabar bunda menyuapi ananda yang selalu bermain-main di waktu makan sembari berkata, “Makanlah anakku sayang, agar cepat besar dan menjadi anak yang berguna...”

Menghapus airmata ananda di kala terjatuh dari sepeda sembari berkata, “Jangan menangis, nak. Sebentar lagi kamu bisa mengendarai sepeda tanpa jatuh lagi, bunda disini menemanimu...”

Siap siaga 24 jam di kala ananda sakit sembari berkata, “Cepat sembuh anakku, bunda merindukan tawa kecilmu...”

Tak hanya itu,
Bunda tak pernah bosan merapikan mainan yang berserakan setiap hari, menasehati di kala salah, menemani ananda saat membuat PR hingga berkorban banyak hal agar ananda bisa menuntut ilmu di tempat yang diinginkan dengan harapan “Ya Allah, semoga putriku bisa mencapai semua cita-citanya, amin.”.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.
Ananda bukan lagi si putri kecil yang bermain-main di waktu makan, menangis saat jatuh dari sepeda, dan diam membisu saat sakit. Kendati begitu, kasih sayang bunda masih sama, tak lupa mengingatkan ananda di waktu makan, tak pernah luput memperhatikan ananda di kala sakit.

Namun, dibalik itu semua...
Ananda masih saja membuat ulah yang membuat bunda khawatir, kecewa bahkan marah. Ananda tahu, rasa khawatir, kecewa dan marah itu bukan menandakan rasa sesal bunda mempunyai anak seperti ananda. Tetapi menandakan rasa sayang yang sangat besar agar ananda menjadi pribadi yang lebih baik lagi di hari esok.

Bunda,
Kini ragamu mulai melemah, matamu mulai cekung di makan usia.
Tapi nuranimu masih membara menunggu keberhasilan ananda, berharap mutiara nan berkilau indah di hari senja.
Akan tetapi, ananda belum berbuat apa-apa untuk mengukir sebuah senyuman secerah mentari pagi di bibir bunda. Ananda belum secuil pun membalas kasih sayang bunda. Ananda akan berusaha, bunda... meskipun ananda tahu realita bahwa kasih sayang seorang anak itu berbanding terbalik dengan kasih sayang seorang ibu.

Bunda,
Izinkan ananda membuatmu tersenyum bahagia...
Izinkan ananda menghapus cucuran airmata yang mengalir di pipimu...
Izinkan ananda duduk di sampingmu, menyertai sukacitamu dam membuang sedu-sedanmu...

Ya Allah...
Ampunilah dosa-dosa Bunda,
Sehatkanlah ia,
Panjangkanlah umurnya, karena hamba masih merindukan kasih sayangnya
Izinkan hamba membahagiakannya,
Sungguh hanya Engkaulah Maha Pengabul Do’a, kabulkanlah do’a hamba ini...

Amin ya Rabbal’alamin...



Specially dedicated for my lovely mom... :’)