Curahan Hati untuk Bunda
Bunda,
Sebenarnya ananda
tak tahu darimana memulai rangkaian kata-kata ini, mengingat begitu besarnya
kasih sayang yang telah bunda berikan untuk ananda, kasih sayang nan tak
berujung dan takkan mampu terbalaskan.
Bunda,
Semenjak dalam
kandungan, ananda bunda belai dengan penuh kelembutan nan berlapis sejuta
harapan. Takkan terpungkiri betapa derasnya airmata bahagiamu saat melihat
ananda lahir ke dunia. Menimang dengan sarat cinta, membesarkan dan mendidik
ananda tanpa kenal lelah.
Dengan sabar
bunda menyuapi ananda yang selalu bermain-main di waktu makan sembari berkata,
“Makanlah anakku sayang, agar cepat besar dan menjadi anak yang berguna...”
Menghapus airmata
ananda di kala terjatuh dari sepeda sembari berkata, “Jangan menangis, nak.
Sebentar lagi kamu bisa mengendarai sepeda tanpa jatuh lagi, bunda disini
menemanimu...”
Siap siaga 24 jam
di kala ananda sakit sembari berkata, “Cepat sembuh anakku, bunda merindukan
tawa kecilmu...”
Tak hanya itu,
Bunda tak pernah
bosan merapikan mainan yang berserakan setiap hari, menasehati di kala salah, menemani
ananda saat membuat PR hingga berkorban banyak hal agar ananda bisa menuntut
ilmu di tempat yang diinginkan dengan harapan “Ya Allah, semoga putriku bisa
mencapai semua cita-citanya, amin.”.
Hari berganti
minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.
Ananda bukan lagi
si putri kecil yang bermain-main di waktu makan, menangis saat jatuh dari
sepeda, dan diam membisu saat sakit. Kendati begitu, kasih sayang bunda masih
sama, tak lupa mengingatkan ananda di waktu makan, tak pernah luput
memperhatikan ananda di kala sakit.
Namun, dibalik
itu semua...
Ananda masih saja
membuat ulah yang membuat bunda khawatir, kecewa bahkan marah. Ananda tahu, rasa
khawatir, kecewa dan marah itu bukan menandakan rasa sesal bunda mempunyai anak
seperti ananda. Tetapi menandakan rasa sayang yang sangat besar agar ananda
menjadi pribadi yang lebih baik lagi di hari esok.
Bunda,
Kini ragamu mulai
melemah, matamu mulai cekung di makan usia.
Tapi nuranimu
masih membara menunggu keberhasilan ananda, berharap mutiara nan berkilau indah
di hari senja.
Akan tetapi,
ananda belum berbuat apa-apa untuk mengukir sebuah senyuman secerah mentari
pagi di bibir bunda. Ananda belum secuil pun membalas kasih sayang bunda.
Ananda akan berusaha, bunda... meskipun ananda tahu realita bahwa kasih sayang
seorang anak itu berbanding terbalik dengan kasih sayang seorang ibu.
Bunda,
Izinkan ananda
membuatmu tersenyum bahagia...
Izinkan ananda
menghapus cucuran airmata yang mengalir di pipimu...
Izinkan ananda
duduk di sampingmu, menyertai sukacitamu dam membuang sedu-sedanmu...
Ya Allah...
Ampunilah
dosa-dosa Bunda,
Sehatkanlah ia,
Panjangkanlah
umurnya, karena hamba masih merindukan kasih sayangnya
Izinkan hamba
membahagiakannya,
Sungguh hanya
Engkaulah Maha Pengabul Do’a, kabulkanlah do’a hamba ini...
Amin ya
Rabbal’alamin...
Specially dedicated for my lovely mom... :’)